Sunday, 13 August 2017

Manage Yourself, Manage Your Team

_Nice Homework #11_
_Matrikulasi IIP batch#4_

*MANAGE YOUR TEAM*

Setelah kita belajar bagaimana mengelola komunitas, maka sekarang saatnya teman-teman praktek membuat team untuk masing-masing kota, dengan cara sbb:
Lihatlah peran yang cocok pada diri anda saat ini kemudian buatlah satu judul sesuai peran anda
Misal:
"Andaikata aku menjadi KOORDINATOR IIP KOTA....."
"Andaikata aku menjadi KETUA RUMBEL IIP KOTA....."
dll.
a. Diskusikan dengan yang lain struktur organisasi dan bentuk kegiatan semacam apa  yang cocok dg kondisi sumber daya manusia dan sumber daya alam yg ada di sekitar kita saat ini.
b. Apabila dalam grup ini peserta dari  kota anda lebih dari satu, berdiskusilah. Apabila anda hanya sendiri di grup ini, diskusikan dengan teman satu kota anda yg satu _chemistry_ dengan anda di luar grup ini.
Andaikata tidak ada keduanya,  anda sendiripun cukup.
Selamat memanage dan merencanakan pola kerja tim anda di setiap kota.
*_If you can manage your self, you can manage your team_*
Salam Ibu Profesional,
/Septi Peni/

_________________________________________________________________________________

Penbahasan :

Peran saya di IIP ASEAN : Manajer Keuangan.

Setelah berdiskusi dengan teman sesama pengurus IIP ASEAN, maka struktur organisasi IIP ASEAN tetap mengikuti acuan dari organisasi pusat dimana ada satu leader atau ketua koordinator IIp ASEAN, 1 orang manajer keuangan, 1 orang manajer online yang merangkap sebagai sekretaris, dan 1 orang manajer offline atau ketua rumah belajar. Berikut adalah struktur IIP ASEAN :

Koordinator : Endang Prasdianti
Sekretaris /manajer online : Dieny Rachmawati
Manajer offline/ ketua rumbel : Safristiani
Manajer Keuangan : Shindie Aprilia

Bentuk Kegiatan

Sehubungan dengan komunitas IIP ASEAN yang baru saja diaktifkan kembali pada pertengahan tahun 2017 ini, maka kegiatan sementara yang cocok dengan kondisi SDM dan SDA adalah kegiatan offline seperti kulwap dan kegiatan online seperti mengundang narasumber untuk bidang tertentu pada acara kopdar atau ngobrol bareng seputar pendidikan anak. SDM IIP wilayah ASEAN masih melingkupi Singapura dan Malaysia dengan jumlah member yang masih sedikit. Hal ini membuat kami bertekad untuk berusaha menarik perhatian teman-teman yang belum bergabung dengan IIP dengan tujuan menularkan energi positif dunia ke-IIP-an dan belajar bersama mengupgrade diri dan masyarakat sekitar.

Beberapa rancangan kegiatan

1. Online
- Melakukan sharing session di WAG khususnya di grup IIP ASEAN dan grup Foundation.
- Merencanakan materi-materi kulwhap yang menarik dengan mengundang narasumber dari Indonesia maupun dari wilayah ASEAN.
- Menarik perhatian teman-teman atau masyarakat sekitar untuk bergabung dengan IIP melalui highlight kegiatan atau materi IIP di sosmed seperti IG, facebook, dll.

2. Offline
- Menyusun dan menjadwalkan kopdar rutin pengurus dan member untuk saling memberikan support dan tukar wawasan seputar IIP.
- Menyusun materi/tulisan/buku yang bertujuan untuk berbagi pemahaman, hal-hal unik dan menyenangkan selama bergabung dengan IIP.
- Menghidupkan rumah belajar.
- Mengadakan bazar dari hasil proyeksi rumah belajar.
- Mengadakan kelas-kelas offline dengan mengundang narasumber yang kompeten di bidangnya.

Tapi di atas semua ini, catatan pentingnya adalah saya sendiri harus bisa mengatur diri  sendiri sebelum mengelola dan bekerja dengan tim. PR yang cukup menantang ya..

Once you can manage yourself, you can manage other (team).

Sunday, 6 August 2017

Bermodal Bakat, Menuang Manfaat

_Nice Homework #10_
_Program Matrikulasi IIP batch #4_

*MEMBANGUN KOMUNITAS, MEMBANGUN PERADABAN*

Salah satu hal yang patut untuk saya syukuri dalam hidup ini adalah mengenal dan bergabung dalam komunitas ibu profesional. Berkali-kali saya berdecak kagum atas motivasi dan kesungguhan para founder maupun para member yang menyalakan api semangat kepada lingkungannya. Hingga baru-baru ini saya didapuk untuk memegang amanah sebagai salah satu koordinator kota atas kesepakatan bersama.

Saya berdomisili di Singapura, di bawah asuhan koordinator IIP ASEAN. IIP ASEAN baru diaktifkan kembali sebelum Ramadhan tahun ini setelah vakum beberapa bulan. Amanah yang saya emban saat ini adalah sebagai manajer keuangan IIP ASEAN. Awalnya saya panik saat mendapat amanah ini. Betapa tidak, urusan keuangan bagi saya amat njlimet dan tidak menarik. Tapi berpijak pada pesan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain, maka saya memberanikan diri untuk belajar dari nol. Memotivasi diri agar menjadi "suka" dan berdamai dengan diri sendiri. Tidak ada yang Allah ciptakan sia-sia di muka bumi ini. Selama ada kemauan dan niat yang kurus, selalu ada jalan dan cahaya yang menerangi.

Kondisi member yang saya pimpin saat ini cukup baik. Satu persatu sahabat dan teman-teman di sekitar saya menunjukkan ketertarikan mereka untuk bergabung dengan IIP. Menurut saya perkembangan IIP di ASEAN cukup baik seiring dengan pertumbuhan jumlah member sejak matrikulasi batch 2 hingga saat ini.

Tantangan yang kami hadapi di lapangan adalah bagaimana memfasilitasi para member dan masyarakat untuk memperoleh edukasi parenting dari narasumber yang kompeten. Posisi kami yang ada di luar negeri menyebabkan biaya yang dibutuhkan untuk mengadakan seminar offline dari narasumber di indonesia cukup besar. Kadang kami harus berpikir dua kali untuk mengundang pembicara hadir secara offline. Beberapa kali upaya untuk menuntut ilmu ini dimanfaatkan secara mendadak dan singkat mengingat keterbatasan waktu dan biaya. Aji mumpung. Mumpung narasumber sedang mampir di singapura, saat itu kami gunakan kesempatan untuk mengadakan kopdar atau seminar offline. Tantangan berikutnya adalah sulitnya melakukan kopdar antar member ASEAN karena membernya berasal dari berbagai negara dan keterbatasan waktu para membernya.

Sebagai seseorang yang dianugerahi bakat analis, komunikator, kreator, motivator, edukator, eksplorer, dan pelayan saya berusaha keras untuk memberikan yang terbaik kepada komunitas dan masyarakat di sekitar saya. Saya senang membantu memudahkan urusan orang lain hingga saya bersedia diberikan amanah ini. Saya akan menggunakan bakat yang saya miliki tersebut untuk mengembangkan dan membantu koordinator lain mewujudkan program-program IIP pada waktu yang akan datang.

Tahun depan kami akan mengembangkan program-program seperti sharing session, program sejuta cinta, tabungan kasih sayang, dan mengenalkan IIP kepada ibu-ibu yang belum mengenalnya.

Saya berharap, peran kecil saya mampu bermanfaat untuk komunitas IIP dan orang-orang di sekitar saya.



Friday, 14 July 2017

Bukan sekedar bekerja, tapi panggilan jiwa.

  Assalamu'alaykum..

  Hai-hai semua.. Apa kabar? Semoga saat ini, di manapun kita berada selalu dalam lindungan dan kasih sayang Allah.

  Sebenarnya saya bingung mau berbagi hal apa. Belum ada cerita menarik yang pantas saya bagikan. Apalagi ibu-ibu di IIP ini adalah ibu-ibu luar biasa yang sudah mumpuni ilmunya. Berpengalaman dan patut diteladani.

  Jadi, mungkin saya hanya cerita dan sharing aja ya. Kebetulan tadi pagi-pagi, Pak suami mendadak bertanya. Serius. Apakah saya berniat bekerja di sini -- di Singapura --  negeri yang sudah 2 tahun ini saya tinggali. Saya menjawab santai, tentu saja mau kalau diijinkan. Mendengar pertanyaan itu meluncur dari bibirnya saja hati saya sudah sumringah. Apalagi kalau SIM-nya beneran keluar.

  Guru. Profesi itu sudah melekat dalam diri saya. Profesi yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya akan saya jalani. Dulu, saya tak pernah bercita-cita menjadi seorang guru. Walau demikian, beberapa orang guru kesayangan saya saat sekolah pernah mengatakan kalau sebaiknya saya menjadi guru saja. Entah darimana datangnya penilaian mereka. Tampaknya, apa yang terjadi di kemudian hari, tak lepas dari doa mereka. Para guru saya yang tersayang. Saat makan bangku kuliah, teman-teman suka mengajak saya melamar pekerjaan sebagai tentor/tutor di lembaga bimbingan belajar. Pekerjaan sambilan anak kuliah untuk mencari biaya tambahan sebagai mahasiswa. Maklum, sebagian mereka hidup ngekos, jauh dari orangtua. Sekalian nyari pengalaman, kata mereka. Pun saya selalu menolak. Dunia ajar mengajar belum menarik perhatian saya kala itu.

Sedang diskusi persiapan materi ajar, saya yang pakai kerudung biru.
  Saya baru mulai belajar mengajar, saat lulus kuliah. Bingung. Drama 'pengacara' alias pengangguran banyak acara di mulai. Sudah masukin banyak surat lamaran kerja, tapi belum jua ada panggilan. Iseng-iseng saya melamar menjadi tentor/tutor di sebuah lembaga bimbingan belajar di kota Medan. Saya langsung diterima dan ditraining sebagai calon pengajar Bahasa Inggris. Tapi belum selesai masa training, saya mendapat tawaran dari seorang teman untuk mengajar pelajaran tambahan bersama tim di beberapa sekolah di sebuah kabupaten di provinsi Riau dalam rangka persiapan UN SMA. Nama Kabupatennya, Rokan Hulu. Berbekal keberanian saya menyanggupi tawaran tersebut. Bagaimana tidak, angka yang ditawarkan cukup menggiurkan bagi saya yang fresh graduate.

Jalan pagi sambil beradaptasi dengan lingkungan. Di depan salah satu sekolah tempat kami bertugas.
  Seiring perjalanan, saya menemukan banyak tantangan saat itu. Belum berpengalaman, langsung terjun ke dunia mengajar. Ngga main-main. Targetnya, seluruh SMA di kabupaten Rohul lulus dengan nilai terbaik. Medan yang cukup menarik, saya yang 'mabok' kendaraan harus terbiasa naik turun shuttle bus, keluar masuk perkebunan sawit. Guru-guru di beberapa sekolah yang kurang bersikap kooperatif, persiapan yang belum matang merupakan hal-hal yang menantang saat itu. Sudah terlanjur basah, mandi sekalian. Semua dihadapi dengan teamwork dan kerja keras. Lama kelamaan saya mulai enjoy dengan aktivitas yang saya jalani. Lelah dan kehabisan suara adalah hal yang biasa saya temui tiap minggu sehabis mengajar. Di sanalah pengalaman saya masuk kelas pertama kali. Pengalaman yang luar biasa. 


  Selesai bertugas di Riau, kami kembali ke daerah masing-masing. Lalu saya menganggur lagi. Hingga 5 bulan kemudian, seorang teman saat kuliah mengabarkan saya mendapatkan pekerjaan di Batam, di perusahaan tempat dia bekerja. 6 bulan lamanya saya bekerja sebagai karyawan swasta sampai teman satu kos saya yang kebetulan seorang guru, mengajak saya bergabung di sebuah SD tempat dia mengajar. Waktu itu saya urungkan menerima tawaran itu. Saya ngga PD ngajar anak SD. Karena metode yang saya dapatkan sebelumnya adalah ngajar anak SMA ala tentor bimbel. 


Bersama anak-anak di tahun terakhir mengajar
  Mengingat dan menimbang berbagai hal, singkat cerita saya terima tawaran beliau. Saya didaulat sebagai guru mata pelajaran Bahasa Inggris sesuai ijazah saya sebagai sarjana sastra inggris. Waktu itu sekolahnya baru berdiri 3 tahun. Saya mendapat amanah menjadi guru kelas 3. Setelah setahun menjadi guru kelas 3, saya dianggap pantas untuk memegang kelas 1, yang merupakan kelas primadona bagi guru SD. Hahaha. Kenapa disebut primadona, karena tentu saja stok sabar, ide, metode di kelas ini harus kaya dan tidak sederhana. 


Bareng temen-temen saat istirahat

  Di sinilah saya mulai jatuh cinta dengan dunia pendidikan. Saya mulai belajar sedikit-sedikit seputar kebutuhan saya sebagai seorang guru. Sedikit-sedikit mulai belajar psikologi, parenting, metode mengajar, dan tentu saja, belajar sabar. Saya hanya berjodoh 3 tahun di sekolah ini karena suami mendapatkan pekerjaan lain di Jakarta. Walau hanya tinggal sebentar dan mencari nafkah di Batam, tapi ada banyak sekali memori indah dan 'keluarga baru' di sana. Ngga heran kalau kami masih selalu merindukan Batam dan orang-orangnya yang sudah seperti keluarga sendiri.  


  Saat pindah ke Jakarta, saya sedang hamil anak kedua. Saya tidak bekerja setelah melahirkan dan menyusui. Saya belum berpikir untuk kembali mengajar di sekolah saat itu. Lalu, pada Ramadhan 2012 atas ijin Allah saya menyaksikan sakaratul maut adik saya. Pada masa itulah titik balik diri saya. Lama saya merenung, bila seandainya saya yang saat itu dipanggil oleh Allah. Perenungan itu menghasilkan pemikiran bahwa saya ingin kembali mengajar. Mengabdi pada dunia pendidikan. Saya ingin menjadi agent of change, penerus risalah para nabi. Seorang perempuan yang bermanfaat bagi oranglain dan terus menyebarkan ilmu yang berguna. Amal yang tak akan putus walau kelak jasad ini sudah tertidur jauh di dalam tanah. 

  Akhirnya saya kembali mengajar pada tahun 2014 di sebuah sekolah yang ngga jauh dari rumah. Sekolah yang sama tempat anak sulung saya masuk TK B.

saat training metode pengajaran kinestetik
  Di sekolah kedua inilah saya makin jatuh cinta pada dunia pendidikan. Sekolah yang tidak menerapkan tes masuk terhadap calon murid ini merupakan wadah saya meng-upgrade diri. Kemampuan sebagai guru benar-benar diuji dan dikerahkan. Tak cukup hanya sabar untuk bekerja di sekolah ini. Kami dituntut untuk kreatif, cerdas, amanah, ngga boleh mati gaya menghadapi anak dengan berbagai rupa, termasuk ABK. Sekolah ramah anak yang guru-gurunya mengajar dengan hati. Saat mengabdi di sini bukan saja menguras fisik, namun juga cukup menguras mental dan waktu. Tapi di sini menariknya. Ada banyak kesempatan untuk mengembangkan diri di sekolah ini. Pelatihan-pelatihan dan tantangan akhirnya menjadi motivasi yang mendorong para guru meningkatkan kualitas dalam mendidik. Sayang, saya hanya berkesempatan mengabdi selama 1 tahun saja di sekolah ini karena suami (lagi-lagi) harus pindah kerja ke Singapura.

  Di Singapura, saya pikir saya ngga bisa berbuat banyak. Perlu adaptasi dan lainnya agar bisa survive di awal kepindahan. Ternyata Allah memberikan jawaban yang lain. Saat pertama kali ikut perkumpulan pengajian ibu-ibu yang anggotanya orang Indonesia semua, guru ngaji yang mendengarkan bacaan saya langsung merekomendasikan saya untuk mengikuti ujian calon guru qiraati. Saya senang sekali sambil mempersiapkan diri mengikuti ujian yang dimaksud. Qadarullaah, saya lulus ujian tersebut dan memperoleh sijil (sertifikat) mengajar Alqur'an dengan metode qiraati di Singapura. Ngga pernah menyangka saya akan menjadi guru Alqur'an justru di negeri yang muslimnya minoritas. Sejak itu saya aktif mengajar Alqur'an dengan metode qiraati pada beberapa orang anak - anak teman saya. Alhamdulillaah, meski mengajar anak oranglain, pendidikan anak-anak ngga terlantar. Pak suami masih mempercayakan pendidikan Aira dan Nadine kepada saya saja. Beliau lebih percaya anak-anak dipegang langsung oleh ibunya.

  Saya lalu meyakini bahwa menjadi seorang pendidik adalah jalan hidup dan panggilan jiwa saya. Lalu hal itu berkembang menjadi suatu hal yang saya senangi. Sesuatu yang menjadi passion saya. Pak suamilah yang selama ini selalu mendukung dan menjadi mentor serta partner yang luar biasa. Dari beliau saya belajar untuk ikhlas, semangat menuntut ilmu, memperbaiki diri, menebarkan manfaat kepada siapa pun, kapanpun, dan di mana saja. Maka, saya terus berusaha untuk bersyukur atas peran hidup yang dipilihkan Allah untuk saya.

Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya.
Karena yang terbaik diantara kamu adalah yang belajar Alqur'an dan mengajarkannya.
Karena kelak Alqur'an akan menjadi syafaat bagi yang suka membacanya.
Alasan-alasan tersebut yang terus membakar semangat saya untuk mengajar, khususnya mengajar Qur'an. 

Bagi saya, menjadi guru bukan hanya profesi semata. Bukan sekedar ladang untuk bekerja. Ia adalah takdirNya yang indah dan panggilan jiwa.


Tuesday, 20 December 2016

Rizki itu bernama potensi diri

Bismillahirrahmanirraahiim..

Kita seringkali terperangkap pada stigma bahwa rizki selalu berbentuk materi. Uang, harta, jabatan kekuasaan, dll. Betapa sedikit dari kita yang benar - benar memahami bahwa apapun pemberian yang diberikan oleh Allah adalah rizki. Nyawa, diri sendiri, kemampuan bergerak, udara, air, tanah, keluarga, tetangga, negara, waktu, kesempatan, dan banyak hal lainnya. Bahkan hal sederhana seperti oksigen yang selalu keluar masuk melalui hidung pun tak ubahnya adalah rizki tak terhingga dari Allah.

Salah satu rizki nyata bagi diri sendiri adalah potensi diri. Setiap manusia diciptakan berbeda dengan manusia lainnya. Ada yang senang membaca, senang olah raga, senang bermusik, senang berbicara, senang bergaul, senang menyendiri. Kita diciptakan beraneka ragam bentuk dan karakter. Hikmah dari perbedaan tersebut mampu dijawab jika saya kembali lagi melihat  tugas - tugas sebelumnya. Meyakini bahwa manusia diciptakan sesuai dengan misi penciptaan masing - masing. Lalu, dengan misi - misi inilah manusia akan menjalankan peran peradabannya dalam kehidupan.

Pada tugas kali ini kami diminta untuk mengikuti tes yang fungsinya membantu saya menemukan bakat dan potensi yang ada pada diri saya. Tentu saja semuanya sesuai pengalaman dan “selera” saya. Selera di sini maksudnya, beberapa pertanyaan yang diajukan menyaring hal - hal apa saja yang paling saya sukai dan yang paling tidak saya sukai. Setidaknya melalui tes ini saya belajar kembali mengenal diri saya sendiri. Pernyataan apa yang paling sesuai atau paling tidak sesuai dengan diri saya. 

Berikut saya lampirkan hasil tesnya.






Kemudian saya diminta untuk membuat kuadran aktivitas untuk mengkonfirmasi hal apa saja yang saya suka, tidak suka, bisa, dan tidak bisa. 


Maka hasilnya seperti di bawah ini :
KUADRAN AKTIVITAS
BISA
TIDAK BISA
SUKA
Membaca dan menulis
Menyanyi
Menari
Berbicara
Mengajar
Memasak/membuat kue
Membuat kerajinan atau craft
Menjahit
Menggambar/melukis
 
TIDAK SUKA
Menyeterika
Berkebun
 
Programming
Mengerjakan pembukuan akuntansi
Melakukan pengerjaan teknik



Sunday, 18 December 2016

Manajer keluargaku? siapa lagi kalau bukan...

Bismillaahirrahmanirrahiim..

Manajer menurut KBBI adalah orang yang mengatur pekerjaan atau kerja sama di antara berbagai kelompok atau sejumlah orang untuk mencapai sasaran; dan  orang yang berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana, mengatur, memimpin, dan mengendalikan pelaksanaannya untuk mencapai sasaran tertentu.

Sedangkan manajer keluarga adalah orang yang merencanakan, mengatur, memimpin, dan mengendalikan pelaksanaan pekerjaan di dalam keluarga. 

Lantas kalau ada yang bertanya, siapakah manajer keluarga?  Maka siapa lagi kalau bukan istri atau ibu. Ya saya. Kamu. Kita. 

Mulai dari urusan memilih sekolah anak, merencanakan program belajar buat anak - anak, hingga membuat jadwal kapan harus belajar dan kapan akan liburan. Mulai dari merencanakan menu harian, belanja mingguan, bulanan, hingga mengeksekusi bahan makanan menjadi beraneka jenis masakan, lalu mengatur pemasukan dan pengeluaran rutin, memimpin pekerjaan seperti membersihkan rumah, membersihkan kamar, menata ruangan, mencuci, dan menyeterika. Seabrek amanah keluarga itu ada di pundak ibu. Ratunya keluarga. Banyak ya tugas ibu itu? Banget. Tapi dengan persiapan dan perencanaan yang matang, serta konsistensi yang kokoh ya para ibu bisalah mengemban tugas itu dengan baik. Kalau kata nenek, jadi seorang ibu itu harus pinter - pinter. Pinter menggunakan waktu yang ada supaya anak, suami, dan rumah tangga berimbang. 

Manajer itu pemimpin. Artinya seorang ibu adalah pemimpin keluarganya. Bukan berarti karena merasa sebagai manajer lalu mengklaim diri kita berada di atas posisi Pak suami. Tunggu dulu kalau begitu. Jangan kebablasan. Maksudnya untuk pekerjaan yang berhubungan dengan keluarga, ya kita lah pemimpinnya. Jadi eksistensi seorang ibu di rumah adalah sebuah keniscayaan. Yang membutuhkan fokus dan profesionalisme juga tak ubahnya seperti para ibu yang bekerja di luar ranah domestik. Justru kalau ada yang menganggap kalau pekerjaan ibu rumah tangga tak ubahnya seperti pekerjaan pembantu atau kelas bawah, mungkin perlu dicerahkan.  Kadang masih suka membaca status teman - teman di sosial media dengan jargon "ngebabu" atau "nginem" dulu ketika mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saya pribadi, agak kurang setuju yang mengatakan bahwa pekerjaan - pekerjaan rumah seperti nyapu, ngepel, masak, ngurusin anak itu pekerjaan yang nggak profesional. Apalagi sejak ikut program matrikulasi IIP batch 2, rasanya dunia per-ibu-an semakin tersinarkan. 

Kenapa saya katakan tercerahkan, karena di komunitas ini saya dituntun untuk belajar menjadi manajer handal. Bukan sekedar manajer yang melakukan tugas karena untuk mengugurkan kewajiban saja. Asal kerja dan menjadikan pekerjaan seperti rutinitas biasa. Tanpa passion dan semangat yang tinggi. Atau bisa juga karena tergantung mood. Olala..

Sebelumnya, banyak aktivitas di rumah yang tidak tersaring berdasarkan skala prioritas. Semua pekerjaan hanya dikerjakan karena keharusan saja. Padahal untuk menjadi manajer yang handal tentu saja harus ada tahapan yang harus saya ikuti. Misalnya harus menyusun skala prioritas, aktivitas apa saja yang saya anggap penting dan tidak penting. Buat saya pribadi, 3 aktivitas yang saya anggap penting adalah mendidik anak - anak, beberes rumah, dan memasak. 

Jika dikumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu maka akan menjadi seperti di bawah ini :

Jadwal Harian
Jam 05.00 am - 08.00 am = Jadwal rutin
Jam 08.00 am - 08.00 pm = Jadwal dinamis
Jam 08.00 pm- 9.00 pm = Jadwal rutin yang belum selesai

Selama satu minggu ini saya lakukan cukup berhasil. Tetapi kemudian saya harus kompromi untuk mengacak aktivitas prioritas karena mendadak diminta pulang ke kampung halaman berhubung ayah saya harus dirawat di rumah sakit. Fokus saya selama sebulan ini bergeser. Berikut NHW ini saya selesaikan di sela - sela waktu yang saya miliki. Semoga saya bisa segera merevisi kekurangan dan mengevaluasi rencana serta pelaksanaan yang telah saya susun. 

Semoga papa segera membaik. Semoga saya bisa terus bergerak dan melakukan perubahan. 

Shindie
Medan, 19 Desember 2016.


Sunday, 20 November 2016

Kita praktek yuuuk...

Bermain sambil belajar

Bismillaahirrahmanirraahiim..

NHW #5 - Learn How to Learn

Ga terasa kita udah sampai di pekan kelima. Betapa cepat waktu berjalan.
Seiring dengan itu betapa banyak ilmu baru yang saya dapatkan.

Makin ke sini, saya sadar bahwa antara materi satu hingga saat ini semua saling terkait. Mulai dari mempelajari adab menuntut ilmu, penguatan tujuan dan jurusan ilmu yang ingin dipelajari,  planning, pengenalan diri, sendiri,  memahami fitrah diri dan keluarga, hingga saatnya implementasi.
NHW #5 ini ibaratnya ngajak saya untuk kerja praktek.

Lho maksudnya ?

Ya, jadi ceritanya NHW #5 kali ini kita diminta untuk membuat desain pembelajaran ala kita sendiri.

Desain pembelajaran?
Salah satu gaya Aira saat belajar (kinestetik)

Apaan lagi tu?

Nah itu dia. Bu Septi dan timnya sejatinya berusaha memberikan contoh seperti apa belajar bagaimana caranya belajar.

Ya, seperti sekarang ini. Menurut saya, tugas yang diberikan oleh tim matrikulasi adalah inti dari materi itu sendiri. Karena begitu membaca tugas kali ini, saya langsung bertanya dalam kepala sebagai berikut :

  1. Apa itu desain pembelajaran?
  2. Apa saja contoh desain pembelajaran?
  3. Mengapa harus membuat desain pembelajaran?
  4. Kapan membuat desain pembelajaran?

Saya teringat dengan isi materi kelima lalu,
Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas, maka pada saat berada di tempat pendidikan, kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan - pertanyaan. Maka akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu) - SPW
Tanpa sadar, rasa ingin tahu saya bangkit. Saya mulai melakukan riset kecil - kecilan melalui proses membaca, berselancar di dunia maya, berdiskusi, dan mengevaluasi. Uniknya lagi, saat membahas topik belajar caranya belajar ini, grup whatsapp matrikulasi rame dengan pembahasan seputar pendidikan dan parenting. Peserta matrikulasi antusias bertanya, membahas, dan menanggapi diskusi yang mengalir seperti air. Yang saya pahami, ini adalah aplikasi dari cara belajar yang beda dan semangat belajar yang berbeda. 

Ilmu tentang parenting mulai bergiliran menghampiri. Tentang passion. Tentang hobi. Tentang Gaya belajar. Tentang kecenderungan kecerdasan. Tentang talents mapping. Tentang menjadi seorang Ibu yang profesional.

Melalui NHW #5 saya dilatih untuk terampil bertanya, berlatih mengembangkan struktur berpikir, aktif mencari, dan berpikir skeptik. Acapkali informasi baru datang, saya lalu mencari dan kroscek tentang itu. Ini materi yang aplikatif sekali buat saya. Bravo bu Septi dan tim!!! 

Lalu, selama kurang lebih sepekan ini pula saya aktif berdiskusi dengan anak - anak, saling lempar pertanyaan yang memancing rasa ingin tahu mereka. Mendampingi belajar dan berpikir keras bagaimana dan metode apa yang sebaiknya saya lakukan agar rasa SUKA mereka muncul. Benar - benar pekerjaan menantang. Terlebih anak saya merupakan tipe kinestetik yang punya gaya belajar auditory visual. Saya biarkan dia melakukan gerakan cartwheel dan gymnastic sambil menjawab pertanyaan - pertanyaan yang saya berikan. Sebagai orangtua memang Pe -Er banget untuk mengetahui apa yang mereka mau.

"Aira ga suka kalau dipaksa - paksa, disuruh cepet - cepet, dan dicerewetin," Ucap si sulung.
"Nadine ga mau gitu, mi. Maunya gini, aja." Ujar adek.

Setidaknya itu sering mereka ucapkan pada saya, tapi kadang saya yang masih harus banyak belajar ini, luput dari hal kecil namun penting itu. Kalau dipikir - pikir kasian juga mereka harus ngikutin maunya kita. Kemauan ibunya yang mereka nggak suka. Materi kelima ini menyadarkan saya. Upppsss, kalau salah langkah, bisa jadi saya malah menutup fitrah belajar dan rasa ingin tahu mereka. Introspeksi. Perbaiki. Kita praktek yuuuk... Belajar mengetahui minat anak - anak, belajar mengetahui cita - citanya dan passionnya.

Jadi, saat berdiskusi dengan anak - anak, saat menjadi teman belajar mereka, sejatinya saya pun sedang belajar. Sama - sama belajar judulnya. Saya belajar menjadi ibu yang memahami cara belajar dengan baik. Belajar memahami tujuan pembelajaran. Belajar memahami dan menguasai hal apa saja yang wajib dipelajari. Belajar menguasai bagaimana strategi mengajar, belajar cara belajar yang berbeda, belajar membuat anak suka belajar, belajar mengetahui passion anak, belajar mengolah daya pikir anak, belajar memahami peran sebagai orangtua. Belajar menjadi ibu profesional.

Lalu, desain pembelajaran ala kita?

Nadine belajar disiplin, sabar, dan percaya diri
  • Tetapkan tujuan pembelajaran.
  • Tuangkan hal apa saja yang ingin dipelajari.
  • Tumbuhkan semangat belajar.
  • Tentukan cara dan strategi belajar.
  • Susun langkah - langkah pembelajaran.
  • Menyusun penilaian/evaluasi pembelajaran.
Bagaimana dengan alokasi waktunya ?
Kapan kita mulai belajar? Mulailah dari saat ini.
Batas waktunya ? Sampai ajal menjemput.

Mulailah dari kita. Ya kita, bu. Mulailah membuat desain pembelajaran buat kita. Lalu buatlah desain pembelajaran untuk mereka, anak - anak tercinta kita.

Wallahu'alam. Walhamdulillaah.

Shindie.
20 Nopember 2016.
Singapura.








 





Saturday, 12 November 2016

Be Yourself, and Do it..

  
   Bismillaahirrahmanirraahiim..

  Memasuki minggu ke empat matrikulasi IIP, entah kenapa, saya merasakan ujian Allah juga berjalan menemani. Meminta saya memahami dan menjalankan materi yang sudah diberi. Melalui matrikulasi, saya diberikan bekal teori seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah. Sedangkan melalui rutinitas sehari - hari, saya diberikan ujian praktek dari Allah bagaimana caranya mendidik Aira dan Nadine dengan kekuatan fitrah yang saya miliki, tentu saja berbasis fitrah pula. 

  Fitrah saya sebagai seorang perempuan yang diberikan fitrah kasih sayang, fitrah ilahiyah, dll harus digunakan sebaik mungkin dalam mendidik anak - anak yang terlahir sesuai fitrah mereka masing - masing. Saya tahu dan rasakan bahwa ternyata prosesnya tidak mudah. Itulah kenapa NHW ini saya selesaikan lebih lama daripada biasanya. Saya jalani dulu, rasakan, alami, barulah saya tulis di sini. Kenapa ? Karena saya merasa dicubit untuk berkenalan lagi dengan diri sendiri. Merasakan anugerah yang Allah berikan kepada saya. Lalu hal itu saya jadikan sebagai bekal untuk menelisik fitrah yang ada pada diri anak - anak saya. Yup. Ada kalimat yang dibisikkan ke dalam hati saya yang berbunyi "Jadilah dirimu sendiri.."

  Hingga hari ini, jurusan ilmu yang saya ingin pelajari masih sama. Saya ingin menempuh pendidikan menjadi orang tua yang selama ini kita pahami sebagai pendidikan anak. Hal ini sejatinya adalah bekal untuk menunjang mimpi saya kelak, mendirikan sebuah sekolah berbasis fitrah bagi anak - anak. Konsistensi dalam belajar dan mengerjakan checklist harian juga merupakan tantangan yang tak kalah besarnya. Saya sadari, pelan - pelan saya mulai konsisten menjalani checklist harian yang saya buat. Tentu saja inovasi harus saya kembangkan terus bersama dengan perbaikan di sana sini. Salah satunya adalah memasukkan jadwal belajar ke dalam checklist harian.


  Menyusun dan mematuhi jadwal harian bagi saya tak ubahnya seperti mengikuti jadwal mengajar di sekolah. Mau nggak mau, kalau mau berjalan sesuai target, kita harus stick to the rules. Terlebih checklist itu kita yang buat sendiri. Sebagai guru di sebuah sekolah, saya punya jadwal yang harus saya ikuti. Langkah - langkah pada program belajar mengajar yang tercantum di  dalam silabus dan Lesson Plan amat penting bagi seorang guru. 

  Saya menyadari bahwa saya bisa menjadi diri saya apa adanya saat saya berada di depan kelas. Saat saya menjadi guru bagi anak - anak didik saya. Hingga akhirnya saya mencintai dunia pendidikan. Itulah maksud penciptaan saya yang saya tangkap dari Allah. Bahwa saya terlahir sebagai seorang educator. Pendidik. Misi hidup saya adalah memberi manfaat kepada orang lain, dengan cara menyampaikan ilmu yang saya kuasai. Bidang yang ingin saya kuasai adalah pendidikan anak. Dan saya akan 
berperan sebagai edukator.


  Saya mencoba membuat tahapan ilmu dan milestone saya sendiri. Walau inspirasi tetap datang dari Ibu Septi, tapi saya yakin Bu Septi akan senang jika anak asuhnya membuat  tahapan dan milestone sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan dan misi spesifik hidupnya pribadi. Untuk bisa menjadi ahli di bidang itu maka tahapan yang harus saya kuasai adalah sebagai berikut :

  1. Ibu Shalehah :  Ilmu Agama/Tauhid. Ilmu seputar pengenalan diri kepada Tuhan, tujuan penciptaan dan misi penciptaan, ilmu ikhlas, dll.
  2. Ibu Sayang    : Ilmu perkembangan kejiwaan anak (psikologi), ilmu perkembangan fitrah anak sejak lahir hingga dewasa. pengasuhan anak (parenting), dll.
  3. Ibu Kreatif     : Ilmu - ilmu seputar metode pengajaran (pendidikan), ilmu seputar minat dan bakat, ilmu seputar kecerdasan anak.
  4. Ibu Cerdas    : Ilmu - ilmu seputar manajemen pengelolaan rumah tangga, pengelolaan pendidikan, menajemen finansial.
  5. Ibu peduli      : Ilmu - ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang.
   Milestone yang saya tetapkan adalah sebagai berikut :

KM 0 - KM 1 (tahun 1) : Menguasai ilmu seputar ibu shalehah.
KM 1 - KM 2 (tahun 2) : Menguasai ilmu seputar Ibu sayang.
KM 2 - KM 3 (tahun 3) : Menguasai ilmu seputar ibu kreatif.
KM 3 - KM 4 (tahun 4) : Menguasai ilmu seputar ibu cerdas.
KM 4 - KM 5 (tahun 5) : Menguasai ilmu seputar ibu peduli.


Kali ini saya tidak banyak berkata - kata karena inti dari NHW #4 kali ini adalah dream it, plan it, do it. Seperti sebuah pesan yang sedari dulu mampir di memori saya berikut ini,

Write what you do, Do what you write.

Inilah saatnya mengerti.
Inilah saatnya berlari.

13 Nopember 2016,
Singapura